Menafsirkan Pepatah Minang
Posted by Maswir pada April 16, 2011
Sebuah peribahasa minang berbunyi :
Tampak puncak masjid urang, takana surau awak
Tampak anak urang, takana jo anak awak
Tampak bini urang, bisa lupo jo bini awak.
Kalau melihat pepatah tersebut secara sederhana akan timbul pengertian yang negatif, terutama pada bait ketiga. Seolah olah istri orang bisa dijadikan istri kita. Sebenarnya sebagai warga minang harus arif dan bijak menangkap makna yang terkandung jauh didalam sebuah ungkapan atau pepatah, mamang maupun bidal Minangkabau. Karena tidak semua kata bisa langsung diterjemahkan sesuai dengan apa yang tampil dalam sebuah kalimat.
Pada bait pertama :”Tampak puncak masjid urang, takana jo surau awak.” Ini termaktub suatu makna yang berhubungan dengan aqidah (agama). Orang Minang sudah ditanamkan rasa keimanan yang sangat dalam semenjak kecil. Dengan hanya diperlihatkan sekilas saja tentang keagamaan tanpa disadari sudah langsung mengingat Sang Khalik pencipta alam semesta. Dibalik itu juga tergambar begitu kuat rasa keagamaan sesuai dengan falsafah Minang “Adat Basandi Syarak, Syarak Basandi Kitabullah.” Secara tersirat juga ditujukan kepada hubungan kita dengan Sang Khalik tidak bisa dihalang-halangi atau diragu dengan apapun.
Dalam bait kedua berbunyi : “Tampak anak urang, takana jo anak awak.” Ini maksudnya menyatakan kekuatan hubungan bathin antara ayah dan anak. Kekuatan hubungan tersebut tidak bisa diganggun dengan apapun. Dalam kalimat ini tersirat rasa pertalian yang sangat kuat, tidak hanya sebatas hubungan dunia malahan hubungan itu jelas dunia akhirat. Seorang ayah akan menjerit bathinnya kalau berada jauh dari anaknya. Malah ada lagi ungkapan mengatakan “asa anak lai kamakan bialah badan marasai”
Siapapun orang tua pasti kalau disangkutkan permasalahan dengan anaknya sering luluh perasaannya. Jadi pada bait kedua ini menyatakan kekuatan hubungan bathin ayah anak sangat kuat.
Pada paragraf awal sudah disinggung sedikit tentang bait ketiga yang cenderung negatif, bunyinya “tampak bini urang bisa lupo jo bini awak”. Sebenarnya kalau dicermati sebait pepatah ini tidaklah negatif maksudnya, disini perlu kearifan menangkap makna yang tersirat didalmnya. Mengapa dikatakan demikian, karena pada bait ini seolah-olah kita bisa mejadikan istri orang mejadi istri kita. Sesungguhnya pesan dalam bait ini menyatakan bahwa hubungan suami istri itu terbatas. Tidak sekuat hubungan Sang Khalik dengan makhluknya, ataupun sekuat hubungan ayah dengan anaknya. Hubungan suami istri bisa putus hanya dengan satu kata. Kata Tuhan dala Al-Qur’an “Pekerjaan halal yang dibenci oleh Allah adalah Thalaq” Hanya dengan kata thalaq pupuslah hubungan tersebut.
Secara tidak langsung ungkapan diatas menjelaskan bahwa hubungan suami istri itu relatif dan hubungan Tuhan dengan manusia serta hubungan ayah dengan anak mutlak.
Dengan analsis yang sederhana ini bisa kita tangkap suatu pesan bahwa perlu kearifan dalam menyikapi dan memaknai sebuah ungkapan pepatah Minang. Banyak peribahasa, mamang, bidal atau pun pantun yang kadang kadang kata perkatanya seolah-olah negatif. Disinilah perlu eseorang menganalisa sesuatu yang tersirat dibalik yang tersurat.
Manyereng mangkonyo tapek.